AORTA Bagian 1, Ciri Ulah Kasilih ku Junti

AORTA

Penulis: Dr. Awan Setiawan, M.Si. (Dosen STKIP Bina Mutiara Sukabumi. Ketua Yayasan Mutiara Palabuhanratu. Wakil Ketua Paguyuban Pasundan Cabang Kabupten Sukabumi
Anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi. Wakil ketua 5  Forum Doktor Sukabumi).

(Bagian 1).

Baca Juga: Tips Sederhana Jaga Kesehatan di Musim Hujan Ala Dwi dari...

Minggu 22 Novber 2020.

Ciri Ulah Kasilih ku Junti.

Baca Juga: Akankah Mimpiku Nyata?

Terkini.id, Sukabumi – Semua komunitas masyarakat manusia dimanapun memiliki identitas kebudayaanya. Walaupun kebudayaan itu bersifat abstrak, karena ia ada dalam pikiran manusia, akan tetapi kebudayaan itu bisa dilihat dari artefak yang dihasilkan oleh pikiran manusia, yang salah satunya adalah kesenian. 

Artefak budaya ada dalam tingkah laku dan semua realitas benda yang dihasilkan pikiran manusia. 

Tingkah laku dan benda yang dihasilkan manusia itu kemudian menjadi artefak budaya yang akan menjelma menjadi jati diri masyarakat tersebut. “Lemah cai dayeuh maneuh  pangancikan” tempat kita menjalani kehidupan.

Baca Juga: Ki Paku Buana Pamungkas Pendiri Persatuan Indonesia Nuswantara Beri Dukungan...

Adalah identitas diri manusia yang harus dijaga esensinya sepanjang zaman. Alam membentuk jiwa manusia dan jiwa menghasilkan tradisi, sehingga alam dan lingkungan menjadi struktur kehidupan yang berfungsi sebagai katalis bagi pembentukan jiwa atau prilaku manusia yang berlangsung dengan tahapan proses terus menerus secara berkelanjutan.  

Sungguh disayangkan saat ini dayeuh yang jadi “ciciren” terporak porandakan oleh perubahan peradaban, terbawa arus zaman sehingga lambat laun tradisi kehilangan pengikutnya.  

Ditengah masyarakat yang begitu materialistik regenerasi yang menjaga nilai nilai leluhurnya terus menerus terkikis karena tradisi tak lagi berkekuatan.  

Jiwa manusia menjadi rapuh, mudah tergonjang ganjing oleh kekuatan luar.  Semakin lemah katalisator maka semakin kuat rongrongannya.  

Akhirnya Dayeuh ciciren diri berubah bentuk menjadi propaganda asing. Contoh kasus  Kota Bandung. Melansir yang disampaikan oleh Ketua Dewan Kebudayaan Jawa Barat (Prof. Dr. Ganjar Kurnia) bahwa Kota Bandung sekarang sudah nampak seperti salah satu kota di Eropa atau Amerika. 

Nama gedung, hotel, komplek perumahan, rumah makan, bahkan nama anak-anak sekarang sudah berbau asing, Bahasa Sunda yang menjadi ciciren dirinya nyaris tergantikan, “Ciri hampir Kasilih ku Junti'”.  

Kenyataan ini harus dijadikan acuan bagi Sukabumi yang sedang giat melaksanakan pembangunan.

Sukabumi harus mewujudkan dirinya sebagai pelaku budaya yang secara sadar membangun kekuatannya sebagai komunitas yang menghadirkan sejumlah program tranformasi dan regenerasi kebudayaan.

Konteks tata nilai tradisional yang masih hidup harus ditopang agar tumbuh segar. Tata nilai baru dibangun lebih luwes seiring perkembangan zaman dengan tidak meninggalakan nilai-nilai estetis dan nilai-nilai fungsional ketradisiannya sebagai warisan budaya leluhur.
Bersambung… 

Bagikan