Masa Pandemi Covid-19, Sidat Harusnya Jadi Strategis Alternatif Dalam Percepatan Pemulihan Ekonomi

Masa Pandemi Covid-19, Sidat Harusnya Jadi Strategis Alternatif  Dalam Percepatan Pemulihan Ekonomi

Penulis. Humas PNTI Jawa Barat (Aa Ruslan/Ruslan Raya/Mata Sosial).

Program percepatan pemulihan ekonomi terus dilakukan oleh pemerintah, baik melalui program-program pemberdayaan skala lokal dan atau UMKM. Dengan adanya Pandemi Covid-19 ini semua sektor dipastikan terkena imbasnya baik langsung atau tidak langsung. Sektor ekonomi menjadi  yang paling terasa dampaknya oleh warga masyarakat bahkan oleh negara-negara di dunia ini. 

Baca Juga: Tips Sederhana Jaga Kesehatan di Musim Hujan Ala Dwi dari...

Salah satu langkah strategis pemerintah kita adalah dengan meningkatkan produktivitas dibidang pertanian dan perikanan sebagai upaya dalam menjaga ketahanan pangan dari tingkat desa hingga nasional dalam antisipasi menghadapi Pandemi Covid-19 dan masa AKB (Akivitas Kebiasaan Baru).

Pertanian dan perikanan adalah dua sektor yang penting dalam menyelamatkan kita dari berbagai krisis, terutama krisis pangan yang diakibatkan pandemi Covid-19 tersebut selain sektor lainnya. 

Baca Juga: Ki Paku Buana Pamungkas Pendiri Persatuan Indonesia Nuswantara Beri Dukungan...

Dalam sektor perikanan misalnya, sidat. Ikan sidat adalah spesies yang masuk dalam katagori katadromus, yaitu jenis ikan yang melakukan pemijahan di laut dan tumbuh besar di perairan darat atau muara perpaduan sungai dan air laut. Ikan sidat ini adalah sangat potensial dan strategis menjadi usaha yang bisa di kelola oleh nelayan lokal. Pasalnya, sidat ini banyak di ekspor keberbagai negara, Seperti Jepang, China, Hong Kong, Thailand dan lainnya.

Dijepang sendiri, sidat ini banyak digemari dan menjadi salah satu makanan paforit, disana ikan Sidat atau disebut Unagi. Unagi  ini sebagai bahan pokok untuk dijadikan kabayaki, yaitu makanan khas Jepang.

Selain itu, yang pasti sidat ini mempunyai segudang manfaat bagi umat manusia karena selain enak dan lezat juga mengandung protein tinggi.

Baca Juga: Provinsi Banten, Somantri: Siap Ikut Berkiprah Di Mata Sosial Indonesia...

Dimasa Pandemi ini, ikan sidat harusnya jadi  produk unggulan untuk percepatan pemulihan ekonomi, apalagi kebutuhan ekspor yang tinggi.

Namun sangat disayangkan, akhir-akhir ini petani-petani ikan sidat banyak mengeluh dengan tidak adanya pesanan lagi. 

Jika dibandingkan beberapa  tahun lalu ikan sidat menjadi Primadona usaha dan banyak memberikan dampak sosial ekonomi yang bagus di kalangan para nelayan sidat di berbagai daerah. 

Dengan merosotnya permintaan sidat ini, tentu harus menjadi bahan evaluasi berbagai pihak, karena dari informasi yang dihimpun para petani sidat mengeluh karena tidak adanya pesanan lagi. 

Sedangkan sidat hasil nelayan palabuhanratu ini, sudah terkenal di nasional dan internasional, banyak sidat yang diambil dari Palabuhanratu Sukabumi ini untuk lokal dan ekspor. 

Jika roda perekonomian sidat ini kembali normal, maka devisa negara pun akan sangat meningkat di sektor perikanan ini. 

Dipulau jawa, Ikan Sidat sendiri dikenal dengan sebutan  Pelus atau belut laut di jawa barat. Di dunia setidaknya ada 18 jenis sidat, untuk di Indonesia sendiri ada sekitar 7 jenis ikan sidat yang ditemukan di berbagai daerah. Diantaranya Sidat yang banyak di temukan di wilayah Palabuhanratu Sukabumi dan jenis sidat inilah yang menjadi  Primadona dibidang usaha sidat karena banyak digemari di berbagai negara yaitu jenis Anguilla bicolor dan Anguilla marmorata. 

Pada dasarnya, sidat selama ini adalah diperoleh dari alam langsung dan di tampung di pengepul atau kolam pembesaran, jadi ketersedian sidat ini sangat tergantung pada alam. 

Namun begitu, penulis telah berbincang-bincang dengan para nelayan sidat dan para pengepul sidat serta KUB (Kelompok Usaha Bersama). Kendalanya saat ini bukan karena tidak adanya pasokan, tapi tidak adanya pembeli, pembeli semakin hari semakin merosot. Disisi lain pangsa pasar sidat masih tinggi di luar negeri. 

Oleh sebab itu, tentu kendala ini adalah PR bagi semua pemegang kebijakan dan pihak terkait, agar geliat sidat berkembang lagi dan menjadi salah satu langkah strategis dalam percepatan pemulihan ekonomi dimasa AKB ini. 

Maka, untuk menyikapi hal ini,  PNTI (Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia) Jawa Barat melalui Sekteris Ali Haerudin menjelaskan, bahwa PNTI Jawabarat Insha Allah akan menyikapi dan menindak lanjuti keluhan para nelayan sidat dengan melihat langsung ke lapangan terkait eksistensi sidat yang kini tengah berkendala dengan pihak pembeli baik lokal maupun luar negeri.

Merosotnya pesanan sidat ke berbagai nelayan sidat bisa disebabkan oleh faktor utamanya adalah Pandemi covid 19. Karena secara umum kondisi perekonomian masyarakat diseluruh dunia pun secara otomatikli mengalami penurunan yang sangat drastis, bisa juga disebabkan oleh berbagai faktor lainnya, dan ini adalah PR kita juga untuk merumuskan langkah 
-langkah strategis dan efisien di masa Pandemi ini. 

Masa Pandemi Covid-19, sidat harusnya jadi alternatif strategis dalam percepatan pemulihan ekonomi. Langkah-langkah DPW PNTI kedepan melakukan inventarisasi persoalan-persoalan yang muncul dikalangan para nelayan tradisional, nelayan danau, pembudi daya ikan, baik air tawar, payau maupun air laut. 

Pada gilirannya kita akan mengajukan program-program unggulan DPW PNTI Jabar, baik dari sisi kenelayanan, penggiat UMKM hasil olahan ikan maupun eko wisata.

Untuk PNTI Sukabumi sendiri terus melakukan komunikasi-komunikasi dengan berbagai pihak terkait, dari mulai para nelayan khususnya sidat itu sendiri, serta dengan unsur pemerintahan. Agar roda perekonomian sidat ini bisa berputar dan lancar serta tetap menjaga keseimbangan ekosistem di alam.

Hasil tangkapan sidat di Palabuharatu Sukabumi ini hampir tidak ada kendala, namun kendala itu ada di pemasarannya, karena semakin berkurangnya pemesanan-pemesanan sidat oleh pembudidaya baik untuk pasar lokal atau ekspor. Dan ini adalah PR kita bersama. 

Seperti kita ketahui, jika flasback ke tahun 2008 yang lalu, ikan sidat ini semakin meningkat. Tahun 2009 nelayan sidat semakin bertambah bisa mencapai ratusan orang setiap malam yang menangkap sidat di muara Cimandiri Palabuhanratu. Disini hanya menangkap benih ikan sidat.

Tulisan ini, penulis tulis berdasarkan informasi dari berbagai pihak terkait, mulai nelayan sidat yang ada di kampung sidat di pantai loji, para pengepul, dan juga unsur pemerintahan dari dinas terkait. 

Regulasi terkait sidat penulis mengacu kepada Permen KP No. 9 Tahun 2012 yang terkait larangan ekspor di bawah ukuran 150 g atau 1,5 ons. 

Untuk wilayah sukabumi sendiri ada  Peraturan Bupati Sukabumi No. 25 tahun 2018 yang dimana mengenai Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Ikan Sidat. Agar sidat tidak punah dan selain itu terus berkembang budidaya yang berkelanjutan.

Tertanggal 29 Maret 2018, Buapti Sukabumi mengeluarkan Surat Edaran dimana pelaku usaha wajib restocking ikan sidat selain pencatatan produksinya. 

Hemat penulis secara Mata Sosial,  ini adalah merupakan sinergitas antara regulasi pemerintah dengan para pelaku usaha dan nelayan sidat, dengan komitmen yang tetap melestarikan sidat di habitatnya serta dengan tehnik budidaya sidat juga bisa menopang perekonomian para nelayan tradisonal di area yang berpotensi menghasilkan sidat tersebut sehingha memberikan manfaat yang berkesinambungan.

Semetara itu, dari berbagai informasi yang di himpun penulis, Populasi ikan sidat didunia sendiri juga mulai terindikasi penurunan popoulasinya, seperti di Jepang dan Eropa,  jenis sidat eropa (Anguilla Anguilla) dan sidat jepang (Anguilla Japonica) terindikasi sangat drastis penurunan populasinya.

Tak heran jika Indonesia menjadi buruan para penggemar sidat di dunia, tercatat Indonesia ada di posisi peringkat 10 di dunia sebagai pengekspor sidat dengan jaminan kualitas terbaik.

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Plt. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) 
Dalam siaran persnya 2020 tahun lalu mengatakan bahwa “Permintaan ekspor sidat yang tinggi itu menyebabkan gejala penangkapan berlebih komoditas sidat di Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, bukan mustahil sidat Indonesia akan mengalami nasib yang sama seperti sidat Eropa yang telah masuk daftar Appendix II,” kata Zaini dalam siaran pers, Minggu (27/9/2020). Dikutif dari kompas. com.

Di Palabuharatu sendiri, penangkapan benih ikan sidat menggunakan alat sirib semcam jaring halus yang biasa di gunakan untuk menangkap inpun atau ikan yang baru netes.

Maksud dari penangkapan benih tersebut dari hasil wawancara dengan nelayan sidat dan pengepul adalah untuk di budidayakan atau dibesarkan di bak penampung agar bisa mememnuhi standar jual seperti dalam yang tertuang dalam perbup itu sendiri, selain iti juga agar menjadi bibit yang unggul.

Sementara itu, hasil dari diskusi Penulis dengan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Suakbumi, yang menangani budi daya bahwa pihaknya membenarkan sekarang kondisi Pandemi Covid-19 ini, harusnya sidat jadi salah satu usaha dalam pemulihan ekonomi di masa Pandemi Covid-19 ini. 

Hal yang paling utama adalah karena Pandemi Covid-19 ini, bukan hanya sidat aja, tapi pelaku usaha bidang lainnya pun terseok-seok, terutama sidat yang pangsa pasarnya bisa dibilang khusu atau tertentu. Ekspor impor pun dimasa Pandemi Covid-19 ini pasti dibatasi tidak aeperti biasanya. Dan hal ini adalah bisa dijadikan salah satu kendala sehingga para pelaku usaha ikan sidat ini seolah “tiarap”, otomatis pemesanan  pun akan tersendat ketingkat petani dan pengepul sidat di daerah termasuk Sukabumi ini. 

Dalam hal ini juga dipandang perlu kedepannya untuk pemantapan budidaya sidat, walau saat ini usaha sidat mengalami keleseuan. 

Pada dasarnya, Segmen budidaya termasuk dalam rangkaian dari hasil tangkap/pra poduksi sampai masuk produksi/infarm aquaqulture. Peningkatan langkah-langkah strategis ini akan menjadi poin penting dalam kemajuan masyarakat dan  menjaga ketahanan pangan sektor perikanan.

Pelaku penangkapan, kelompok pembudidaya, pelaku pengolahan harus terus mendapat pendampingan atau edukasi  dan pembinaan secara berkesinambungan dan tertelusur mengenai proses kegiatan budidaya dan pasca produksinya, meliputi; cara penagkapan ikan/sidat, ukuran benih sidat/Glasseel yang baik, pakan yang sesuai, sarana prasarana media tanam, keamanan pangan dan lingkungan.

Selain itu juga peningkatan pemahaman kesadaran tentang pelestarian/restoking sidat dari hasil budidaya ke perairan umum dan daratan. Pelaku usaha budidaya juga harus di pastikan untuk pemasaran hasil dari  budidaya sidat itu sendiri, kepastian hal tersebut perlu ada titik temu dari  pembudidaya, stakeholder, dan pemerintah dalam hal ini yang menginisiasi kesepakatan dan komitmen tersebut. Sehingga pelaku usaha budidaya sidat tidak perlu merasa khawatir ketika ikan sidat sudah cukup ukuran untuk di jual, kepastian pasar/pembeli sudah tersedia, dengan kerangka kerja yang konsaptebel. 

Mata Sosial berharap di Masa Pandemi Covid-19 ini Sidat Jadi Alternatif Strategis Dalam Percepatan Pemulihan Ekonomi dengan pengembangan kreatif yang inovatif dalam berbagai aneka pengolahan, misal seperti keripik sidat, abon sidat, dendeng sidat, atau peyek sidat. Walau pun harganya tidak semanis untuk ekspor, setidaknya para nelayan sidat dengan pembinaan dan bantuan pemerintah bisa mengolah sidat jadi aneka olahan yang ekonomis untuk pangsa pasar lokal. 

Dengan dikenalkannya aneka olahan pangan berbahan baku sidat ini,  bisa mendorong warga masyarakat untuk konsumsi sidat terutama di musim Pandemi Covid-19 ini dimana sidat  kaya akan protein. 

Walaupun permintaan ekspor tinggi, karena Covid-19 ini semua terdampak. Salah satu alternatifnya adalah dijadikan aneka olahan pangan lokal agar sidat bisa tetap jadi alternatif strategis dalam percepatan pemulihan ekonomi dimasa Pandemi Covid-19 ini.

#Dari berbagai Sumber. 

Bagikan