Paranoid, Jangan Sampai Orang Tua Menyediakan Neraka Untuk Dirinya dan Keturunannya

PARANOID.

Jangan Sampai Orang Tua Menyediakan Neraka  Untuk Dirinya dan Keturunannya

Bagian 1.

Baca Juga: Ki Paku Buana Pamungkas Pendiri Persatuan Indonesia Nuswantara Beri Dukungan...

Penulis, Ruslan Raya Mata Sosial. 

Artikel ini ditulis dengan harapan untuk meminimalisir kenakalan-kenakalan remaja dan kasus bunuh diri pada tingkat remaja dengan berbagai latar belakang masalah. 

Baca Juga: Provinsi Banten, Somantri: Siap Ikut Berkiprah Di Mata Sosial Indonesia...

Siapapun orang tuanya pastinya akan sayang  dan mencurahkan kasih sayangnya kepada anaknya. Karena pada dasarnya anak adalah dambaan setiap orang tua. Sebaliknya seiringa waktu dari masa-kemasa, kenakalan remaja terus selalu ada dengan tingkat dan intensitas sesuai perkembangan jaman. Tentu hal ini adalah tanggung jawab kita semua untuk meminimalisir kenakalan-kenakalan remaja agar bisa ter arah dan tersalurkan kepada hal-hal positif dan pengembangan potensi diri agar menjadi prestasi dalam bidang-bidang yang positif dan dibanggakan,  disamping itu tidak melanggar norma dan adat istiadat serta hukum agama dan negara  yang berlaku. 

Islam telah mengatur segalanya dalam kehidupan ini, termasuk hak dan tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya serta adab dan perlakuan anak terhadap kedua orang tuanya. Seperti yang  hadits Rasulullah SAW sampaikan:

“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimin dalam rumah tagga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari juz 1, hal. 215).

Baca Juga: Koramil 0622-06/Parakansalak Cegah Covid-19 Dengan Prokes dan Vaksin

“Ibu-Ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya.” (QS. Al-Baqarah: 233).

Jelas sekali bahwa seorang suami dan istri adalah sama-sama dipinta pertanggung jawabannya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik sumai sebagai pemimpin dan Istri sebagai pendamping pemimpin dalam nahkoda rumah tangga.

Serta berkewajiban dalam memberikan nafkah dan mengurus anak-anak mereka agar menjadi anak-anak yang soleh dan solehan, karena hakekatnya anak adalah sebagi titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Cara didikan yang baik dan benar seperti diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik melalui rasul dan nabi-nabinya atau melalui firman-firman-Nya dalam Kitab Suci Alquran akan menyalamatkan orang tua dan anak dari api neraka di akhirat kelak. 

Dalam hal menyusui, adalah bersangkutan dengan proses atau cara-cara dalam mencari nafkah. Jika proses dalam mencari nafkahnya tidak baik dan tidak benar dan berlawanan dengan Agama, Negara, Adat Istiadat maka secara psikologis akan jadi bibit penyakit atau permasalah yang rumit dalam perkembangan pertumbuhan anak itu sendiri baik secara mental atau tumbuh kembang fisik anak itu sendiri. 

Namun begitu, jika proses dalam pncarian nafkah sudah sesuai dengan aturan Agama, Negara dan Adat Istiadat dalam suatu kaum atau negara, akan tetap sikap dan mental prilaku anak itu buruk serta jauh dari yang diharapkan, bisa di pastikan itu adalah sebuah ujian kesabaran dan keiklasan yang harus di terima orang tua karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kisah tersebut sudah di gambarkan dalam kisah Nabi Nuh dan Kan’an anaknya serta Nabi Lut dan Istrinya. Dimana Kan’an dan istri Nabi Lut menjadi Manusia Durhaka. 

Dan juga kisah Nabi Ibrahim yang mengajak ayahnya kejalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah sebuah gambaran dan contoh bahwa kesabaran dan keiklasan serta Hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat berperan dalam  setiap kejadian apapun di bumi ini. Dimana Orang Tua Nabi Ibrohim menolak keras kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Ibrohim. 

Kedua kisah tersebut bisa terulang lagi disetiap waktu dan masa dalam kehidupan dan peradaban di bumi ini dengan tema yang  hampir  sama dan tingkat yang berbeda. 

Sementara itu, kewajiban dan adab seorang anak terhadap orang tua, secara eksplisit Islam pun memaparkannya baik yang tersurat atau yang tersirat. 

Setidaknya beberapa langkah kewajiban anak terhadap orangtua dalam persfektif Islam.

Dianataranya, taat dan berbuat baik kepada orangtua dalam apa pun juga kecuali kemaksiatan dan kesyirikan. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Q.S. Al Isra’; 23)

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Luqman: 15).

Tentang perlunya berbakti kepada orang tua juga terdapat dalalam surah diantaranya; an-Nisa:36, surah al-Baqarah:83al-Isra’:23, al-An’am:151, Surat Luqman ayat 14.

Hadits tentang ridho kepada orang tua juga diriwayatkan oleh HR. Tirmidzi: “Ridho Allah itu tergantung ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orangtua.” (HR. Tirmidzi).

Hemat Mata Sosial yang dirangkum dari bernagai sumber,  tanpa disadari ada juga Orang Tua yang durhaka kepada anak-anaknya. Hal ini bisa terjadi kepada siapa aja dan dimana aja tanpa mengenal golongan atau kalangan dalam elemen warga masyarakat sebagai orang tua dengan ciri-ciri sebagai berikut. 

Orang tua yang super egois dan tidak mau introspeksi diri akan menciptakan neraka buat dirinya dan keturunannya. Dan juga Orang tua yang pilih kasih terhadap anak-anaknya akan mengakibatkan berbagai potensi kerusakan ahlak dan prilaku pada anak-anaknya. Orang tua yang menghasut anaknya diantara anak-anak lainnya untuk mendapatkan materi yang diharapkan dari anak yang di incarnya, tentu cara yang tak terpuji dengan hasut dan fitnah ini hanya akan mencipatakan bernagai permasalah dalam kehidupan keluarganya. Karena Orang tua yang mefitnah anaknya tanpa upaya menelusuri kebenarannya adalah termasuk perbuatan dzolim dan dosa besar. Orang tua yang Gengsi mengakui kebenaran dari yang disampaikan dan dilakukan anaknya juga hal ini bisa mencipatakan komunikasi buruk dikeluarga yang akhirnya bisa berpotensi menimbulkan bernagai macam kenakalan remaja. Orang tua yang memutuskan silaturahmi anak diantara anak-anaknya dengan maksud dan tujuan tertentu, ini pun sangat bahaya akan perkembangan keharmonisan keluarga. Orang tua yang menghakimi anaknya dengan nafsu angkara murka tanpa tuntunan Agama, ini akan sangat berdapak negatif padaprilaku dan perkembangan kehidpan dalam sebuah keluarga. 

Sifat-sifat orang tua akan terus mengalir kepada anak-anaknya, baik yang buruk atu pun yang baik. Seiring waktu dan kedewasaan sang anak akan menilai dan memilih mana aja yang akan di teruskan apakah sifat buruknya atau sifat baiknya. 

Disamping itu,  secara psikologis kekerasan orang tua atau sikap pemarah orang tua kepada anaknya akan mempengaruhi kehidupan psikis sang anak tersebut. Dan juga sebaliknya sikap orang tua yang over protektiv dan posesiv juga bisa berpengaruh  pada kehidupan psikologi anak itu sendiri. 

Orang tua super egois dan tidak mau intropeksi diri hanya akan menyediakan neraka buat dirinya dan juga keturunannya, Nau’dzubilah. Dari berbagai penulusuran kasus-kasus sekitar kehidupan rumah tangga,  hampir semua di latar belakangi oleh mainset dan atau pola pikir orang tua yang super egois dan tidak introspeksi diri sebagi refleksi dan renungan untuk memperbaiki dari dalam dirinya sendiri.

Sifat pemarah orang tua yang tanpa sebab-sebab logis terhadap anaknya, atau sebagai pelampisan gratis dalam meluapkan emosi karena sesuatu hal yang dihadipanya, itu hanya akan menjadikam kerasnya hati orang tua tersebut dan jauhnya hidayah Allah terhadap orang tua tersebut, sebagaimana Firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al- Qashas ayat 56).

Hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika hidayah itu tertutup, maka orang tua akan menjadi sosok “Adat Ka Kurung Ku Iga” yang artinya adalah tabiat atau sikap tingkah laku yang tak terpuji seseorang yang susah diubah atau dihilangkan dengan berbagai nasehat dan masukan.

Jika sudah terkena penyakit Psikologis adat ka kurung ku iga (Super Egois) maka ini adalah sumber dan titik yang sangat bahaya buat kelangsungan kehidupan bagi anak-anaknya secara psikologis dan perkembangan mentalnya. Dan komunikasi pun terganggu, ini juga merupakan potensi dosa bagi orang tua karena anak sering diperlakukan dengan dzolim secara psikis dan selalu menghakimi serta Suudzona tanpa mau mendengarkan masukan atau ucapan anaknya itu sendiri. 

Dari berbagai kasua yang dihimpun penulis, rata-rata orang tua seperti ini, hanya merasa bahwa dirinya lah sebagai orang tua yang paling benar dan anak hanyalah segala sesuatu yang hanya berbuat salah. Tanpa mau berintropeksi dalam dirinya sendiri sebagai refleksi dalam menumbuhkan kesadaran yang fundamental. Sering kita dengar dengan Istilah toxic parents atau orangtua beracun, yang artinya  meracuni anaknya dengan hasutan, Fitnah, gibah, dan sejenisnya yang pada akhirnya sumber durhaka dan sumber segala penyakit karena sikap dan prilaku orang tuanya sendiri.

Sebagai contoh, orang tua bersifat pemarah akut, Paranoid akut, gengsi dan tidak mau nerima masukan dari anaknya walau pun masukannya untuk kebenaran dan kebaikan, orang tua seperti ini cendrung haus pujian dari sekitar lingkungannya, gila hormat dan terjebak dalam nafsu yang keliru serta menyesatkan. 

Sifat pemarah orang tua, dengan perkataan kasar atau secara fisik, terus menerus dilakukan dengan luapan emosi  tentu ini sadar atau tidak sadar akan menjadi do’a orang tua tersebut kepada anaknya. Bagai mana pun ucapan adalah do’a. Dalam islam dijelaskan seperti dalam hadis:

“Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya hamba-hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridha’i Allah Azza Wa Jalla tanpa berfikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan perkataanya itu. Dan hamba-hamba yang berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berfikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka jahanam dengan kata-katanya itu.” (HR Bukhari, Ahmad dan Malik).

Maka sebaiknya kita semua orang tua, anak, senantiasa selalu menjaga lisan kita semuanya.

Pada hakekatnya secara logika manusia, sebenarnya anak sendiri tidak pernah minta dilahirkan oleh orang tua si A atau si B atau si C. Akan tetapi orang tua lah yang memohon agar diberikan anak dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan seorang anak, maka disitu hemat mata sosial yakin bahwa anak itu adalah sebagai amanah dan titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam persfektif Islam, kita harus mengimani qodo dan Qodar sebagi keputusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Siapapun anaknya, siapapun orang tuannya itu adalah ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk kita sebagi mahluk_NYA. Tinggal kita bersabar dan iklas serta menjalakan apa yang di perintahkan dan apa yang dilarang_NYa.

*Dari berbagai sumber

Wllahualam Bissawab .

Salam Mata Sosial Yuk Peduli Yuk Berbagi. 

Bagikan