Paranoid, Fitnah Itu Lebih Kejam Dari Pembunuhan

PARANOID

bagian 2.

Fitnah Itu Lebih Kejam Dari Pembunuhan

Baca Juga: Ki Paku Buana Pamungkas Pendiri Persatuan Indonesia Nuswantara Beri Dukungan...

Penulis, Ruslan Raya Mata Sosial. 

Artikel ini ditulis dari berbagai sumber dengan harapan untuk meminimalisir kenakalan-kenakalan remaja dan kasus bunuh diri dan pembunuhan pada tingkat remaja dengan berbagai latar belakang masalah. 

Baca Juga: Provinsi Banten, Somantri: Siap Ikut Berkiprah Di Mata Sosial Indonesia...

Kehidupan dalam keluarga, Ayah adalah sosok yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam bahtera rumah tangga atau keluarga. Mau di bawa kemana dan mau seperti apa tergantung pada peran orang tua dalam keluarga tersebut. Terutama peran seorang ayah. 

Dari berbagai sumber yang dihimpun penulis, ayah menurut Islam adalah merupakan imam yang menjadi sosok pemberi teladan dan pelajaran serta yang bertanggung jawab.

Disamping itu, selain bertanggung jawab memimpin keluarga, pada dasarnya ayah harus bisa bersikap adil dari setiap sikap dan keputusan, harus bersikap objektif. Ketika dihadapkan pada konflik keluarga, ayah adalah hakim yang agung dalam keluarga dan sebagi penolong dalam setiap hal yang dibutuhkan anak-anaknya dalam keluarga.

Baca Juga: Koramil 0622-06/Parakansalak Cegah Covid-19 Dengan Prokes dan Vaksin

Kita bisa belajar kepada kebijaksanaan dan serta nilai-nilai baik yang para nabi dan rasul contohkan buat umatnya. 

Sebagaimana Luqman memberikan nilai-nilai  fositif yang  baik kepada anak-anaknya untuk tetap berlaku jujur. 

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Lukman [31]: 16).

Dan Nabi Muhammad SAW  pun banyak memberikan contoh yang baik dan benar untuk umatnya bagai mana cinta dan kasih sayang seorang ayah. Nabi Muhammad adalah teladan segalanya bahi umat manusia. 

Pendidikan di rumah adalah melalui sikap dan tingkah laku langsung dari orang tua di rumah dalam berbagai hal terkecil sekalipun. Dampaknya, terasa atau tidak, Pendidikan di rumah ini adalah dahsyatnya bukan maen pada kelangsungan dan perkembangan psikologis keluarga dan juga anak-anaknya. 

Jika orang tua tidak pandai-pandai mengolah  dan mencerna berbagai informasi yang diterimanya mengenai anaknya, hal tersebut akan membuat banyak kekacauan dalam kehidupan keluarga tersebut.

Sebagai contoh; misal orang tua mendapatkan kabar miring anaknya di luar rumah, tanpa mencerna dan tanpa menelusuri kebenaran berita fitnah atau hoax itu. Sang orang tua langsung marah-marah dan dengan nafsu angkara membentak serta menyiksa mental dan psikologis anaknya di bawah tekanan yang liar dan luar biasa. Maka hal tersebut akan menjadi luka berkarat pada perkembangan mental dan tumbuh kembang  anak, dalam persfektif Islam pun hal demikian termasuk dosa besar dan dzolim. Karena sesungguhnya Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. 

Fitnah sumber masalah dari segalanya. Dalam hirarki sebuah keluarga biasanya anak pertama membantu dan membimbing anak kedua dan seterusnya, hal itu diajarkan oleh kebanyak orang tua untuk menarepkan saling asah, asuh, asih, atau saling mengingatkan, saling membina, dan saling menyangi. Demikian juga dalam persfektif  islam hal ini merupakan sebuah wujud dari akhlakulkarimah.

Tentunya, anak pertama ini mengemban amah dan tanggung jawab mulia dimana estapet tanggung jawab seorang ayah dalam keluarga secara perlahan di serahkan dan di lanjutkan oleh anak pertama.

Dalam hal ini, orang tua pastinya bersyukur dan terus mendorong, mensuport, serta memonitoring, selain sebagai orang tua, juga sebagai pembina dalam menjalankan sistem penerapan ahlakulkarimah di dalam tatanan keluarga. Dan memang seharusnya bisa bersyukur dan bangga, karena generasi keluarga terbina, terbantu, dan terarah. 

Dengan diambil alihnya tugas orang tua oleh anak pertamanya dalam membina dan menafkahi keluarganya dengan segala kemampuan dan perjuangannya. Orang tua tersbut sangat beruntung dan banyak waktu luang untuk meningkatkan kualitas ibdadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari berbagai penulusuran kasus yang dihimpun penulis, masih ada saja sebahagian orang tua yang minim dan miskin rasa serta kepakaan dan kecerdasan emosional dalam menyikapi peluang dan momentum yang sangat bagus dan luar biasa ini. Padahal para orang tua tersebut hanya tinggal meningkatkan rasa bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan berdo’a agar senantiasa keluaragnya terus ada dalam lindingan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sebagi contoh kasus, misalkan anak pertama tersebut ada perselisihan antara anak-anak lainnya (adek-adeknya) Seorang anak pertama Bagaimanapun melakukan sesuatu dengan pertimbangan matang dan logis serta demi masa depan keluarga. 

Nah karena dikuasi nafsu dan kurangnya wawasan serta kurangnya nilai-nilai etika dan tatakrama, adek-adeknya yang ditegur atau di bina oleh anak pertama memberikan kabar miring berupa fitnah dan ujaran kebencian kepada orang tuanya, mereka mengadu untuk mendapatkan pembenaran dan perlindungan dari orang tuanya. Sehingga orang tua yang minim kesadaran serta kecerdasan emosional langsung menelan mentah-mentah tanpa menelusuri kebenaran berita fitnah tersebut.  

Sebagai orang tua yang beriman juga sebaiknya melakukan cara-cara yang dianjurkan Islam, yaitu dengan menjalankan solat hajat, solat tahajud, atau solat malam untuk mendapat petunjuk ilahiyah agar tidak  terjebak dalam Fitnah. Sehingga tidak langsung menghakimi anak pertamanya yang dengan susah payah menjadi tulang punggung dan melanjutkan estapet tanggung jawab orang tua atau ayahnya kepada keluarganya.

Dari berbagai kasua yang di cermati. Akhirnya orang tua itu ikut memberi dan menyalahkan anak pertama yang mati-matian membela dan memperjuangkan keluarga. 

Disini jelas, penulis bisa menyimpulkan tidak ada MANUSIA yang kejam dan keji melebihi kejam dam kejinya HITLER kecuali adalah anak-anak yang menghasut dan menjerumuskan orang tuanya sendiri kedalam jurang dan kerak neraka dengan menimbulkan fitnah dan kedzoliman yang luar biasa. Walaupun sepertinya di anggap benar sikap adek-adek tersebut oleh orang tuanya. Hakekatnya itu adalah memanggang orang tuanya sendiri dalam api neraka. Maka jelas islam menekankan bahwa fitnah itu adalah lebih kejam dari pembunuhan.

Wallahualam Bissawab.

Salam Mata Sosial Yuk Peduli Yuk Berbagi

 

 

Bagikan