Paranoid Adek Mau Diperkosa, Ibu: Nitip Jaga dan Lindungi

Paranoid. Adek Mau Di Perkosa, Ibu: Nitip Jaga Dan Lindungi.

Cerpen Fiksi

Ditulis oleh Ruslan Raya Mata Sosial 

Baca Juga: Mata Sosial Bersihkan Hati dan Tingkatkan Kecerdasan Emosional Dalam Momen...

Hari yang cerah, suasana perkampungan yang indah. Namun tidak dalam kehidupan sebuah keluarga, dimana emosi dan watak yang tak pernah berubah dari sosok kepala keluarga yang pemarah dan super egois serta sosok ibu yang segala sesuatunya terus berbohong untuk menutupi segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Perpaduan dua watak yang mengorbankan anak secara mental. Kerap sang anak pertama jadi sasaran kasar dan kemarahan serta omelan orang tua yang tanpa sebab.

Semua keluarga besar sangat mengetahui dengan sadar watak dari kedua orang tua tersebut. Dan itu hanya jadi gunjingan saja satu sama lainnya, dan kerap anak pertama juga menjadi sasaran dari protes-protes keluarga besar dari paman, bibi, dan bahkan tetangga.

Baca Juga: Tips Sederhana Jaga Kesehatan di Musim Hujan Ala Dwi dari...

Disamping itu, sosok kedua orang tua tersebut termasuk royal dan sedikit perhitungan pada anaknya sendiri. Siapapun bisa ditolong, di bantu dan di rangkul. Bahkan anak-anak muda terminal serta guru-guru sekolahpun banyak yang tinggal di rumah keluarga tersebut dengan bebas dan welcome. 

Mereka bisa ramah dan terbuka untuk orang lain tapi sangat perhitungan untuk anak pertamanya.

Segal biaya pendidikan anak pertamanya selalu di tulis dan di tempel di dinding. Dan dicerikatakan kepada colega-coleganya. Walapun itu hanya sebatas dokumentasi mungkin. Terperinci serta detail dengan tanggal dan jamnya.

Baca Juga: Tips Sederhana Jaga Kesehatan di Musim Hujan Ala Dwi dari...

Perjuangan orang tua tersebut juga termasuk luar biasa. Namun sayang, watak keduanya hanya akan membunuh secara perlahan keluarga dan keturunan sendiri dengan berbagai problematikanya.

Ibu: “Suf, Ade mu mau di perkosa di dalam kamar dan hampir saja terjadi, tapi sudah ketahuan kepergok sama bapak. Ini aeb keluarga, ajak adekmu ke Surabaya ikut kuliah kamu disana”. curhat ibu pada anak pertamanya yang bernama Yusuf sambil menangis menahan segala beban.

Dalam hatinya. Yusup marah besar dan ingin sekali membunuh bajigan itu, tapi Yusuf tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya diam. Karena kalau bersuara pun sang ayah akan marah besar dengan sifat egoisnya dan ingin menang sendiri, karena bajingan itu adalah seorang oknum guru kawan ayahnya dan setiap hari tinggal dirumah keluarga itu.

Yusuf: “Iya Bu ikut aja ke Surabaya biar kursus komputer di sana,” Jawab Yusuf singakat dan sambil menahan emosi.

***

Beberapa bulan kemudian Yusuf dan Adenya yang bernama Iteng itu sudah di Surabaya. Yusuf selalu memberi semangat dan advaice  kepada Adenya (Iteng).

Iteng masuk di kursus komputer untuk masa depannya. Iteng juga tahu sebenarnya bagai mana kusutnya keluarganya. Seorang ayahnya terjebak dalam dunia halusinasi atau dunia hayal. Dimana logika bisa terbalik dan tidak berperan seperti biasanya. Terjebak dalam bisnis UKA-UKA dan masuk dalam jama’ah ekstrim.

Namun semua masukan dari keluarga besar dan dari Yusuf sendiri sebagai anak pertamanya tidak pernah mau di dengar. Ketika diberi masukan dengan lembut dan etika, Yusuf malah dianggap sebagai anak durhaka dan penentang. Tak jarang Yusuf jadi sasaran kemarahan tanpa jelas asal usulnya.

Sifat egois dan gengsi sang ayah Yusuf semakin menggila dan juga sikap ibu Yusuf semakin penuh kebohongan dalam menyikapi hal tersebut.

***

Saat kuliah Yusuf mau menghadapi KKN Kuliar Kerja Nyata, keadaan keluarga semakin berantak secara ekonomi dan juga secara keseluruhan.

Sosok Yusuf adalah anak mandiri sejak kecil, Karena penuh dengan tekanan batin dari kehidupan keluarganya yang semacam itu.

Tak jarang Yusuf kecil kalau libur sekolah tinggal di saudaranya bibi dan omnya. Dan sering kali Yusuf di marah-marahin sama ayahnya ketika berbicara biaya.

Ayah Yusuf: “Semua bibimu dan om mu ayah yang biayai sekolahnya. Mana sekarang yang mau bantu ayah lagi susah begini. Datangi bibi-bibimu dan om-om mu, dan minta bantuan biaya sekolah. Karena dulu ayah yang biayain mereka,” ungkap ayah Yusuf selalu mengungkit jasanya dulu pada adek-adeknya dengan nada tinggi.

Hampir setiap saat Yusuf selalu dijejali dengan sumpah serapah dan selalu disuruh ke paman atau bibinya untuk minta bantuan biaya.

Tapi Yusuf tidak melakukan apa yang di perintahkan ayahnya. Yusuf lebih memilih jualan kantong keresek di pasar tradisional atau di dermaga dan kadang-kadang jadi kondek mobil dan tukang cuci mobil.

Namun disamping itu, Yusuf sering nginep di rumah  om dan bibinya. Dirumah saudaranya Yusuf dikasih tahu bahwa dirinya harus sabar karena memang watak dan tabiat ayahnya seperti itu, Egois dan keras kepala serta pemarah. Baik sama orang lain dan kadang perhitungan buat keluarga atau sanak saudaranya.

***

Beban mental Yusuf diterpa sejak kecil. Hingga kuliah Yusuf tak jarang jadi kuli bangunan dana kerja serabutan bahkan jadi pengamen di jalanan.

Singkatnya, Kuliah Yusuf pun berantakan tidak sampai selesai. Walaupun perstasi akademisinya cukup bagus dan patut dibanggakan. Hasil dari jual tanah warisan pun tidak cukup untuk biaya selama kulaih. Karena semua dalam keadaan nganggur berat. Dari situlah keluarga yusuf  bisa bertahan. Walapun sebagai judulnya tanah tersebut untuk biaya kuliah. Namun tidak 100 persen untuk biaya kuliah.

Hancurnya dan majunya  kehidupan keluarga ada pada pola pikir orang tua di setiap keluarga.

Yusuf bertahan dengan segala kondisi, di tengah kegagalan kuliahnya karena faktor ekonomi. Tapi sebenarnya faktor mental dan pola pikir keluarganya yang sangat berantakan.

Akhirnya Yusuf dengan modal dengkul dan kepercayaan seseorang buka bisnis komputer untuk membantu keluarganya dan juga adek-adeknya dalam menempuh pendidikan sekolah walau tidak besar namun  perjuangan itu sangat berat karena melanjutkan tanggung jawab orang tuanya.

Ayah Yusuf hanya disibukkan dengan jamaah dan bisnis yang ga jelas, efeknya sifat egois makin tinggi dan sikap merasa benar pun makin akut.

Tidak hanya disitu, ketika sukses membangun bisnis dari modal dengkul. Yusup terus membantu keluarga. Yang dia pikirkan agar adek-adeknya maju. Dan keluarganya tidak menjadi bahan olokan dan gunjingan orang lain karena sifat orang tuanya. 

Hasil dari bisnis UKA-UKA Ayah Yusuf dan Jama’ah pengajian akhirnya membuahkan hasil yang tak terduga. Dimana Ayah Yusuf menikah dengan seorang janda tentangganya sendiri  yang jaraknya cuma ratusan meter dari rumahnya. Janda tersebut adalah mantan bisnis teman ayahnya Yusuf yang sudah Almarhum sebelum terjun ke bisnis UKA-UKA.

Dengan isu pernikahan itu suasana makin kacau dan berantakan. Tapi Yusuf terus berusaha agar bisa memajukan keluarganya atau adek-adeknya melalui jalaur pendidikan.

Karena bagi Yusuf. Pendidikan yang baik dan benar akan membawa perubahan yang benar pula.

Namun masalah semakin rumit dan tambah berantakan. Ketika adek-adeknya yang diperjuangkan menjadi manusia yang memfitnahnya dan mengadu domba kepada oran tuanya.

Adenya yang mau diperkos dulu dan terus diperjuangkan, Adenya yang lumpuh dan terus diperjuangkan pada akhirnya hanya menjerumuskan orang tua pada api nerak dengan fitnah dan adu dombanya.

Adek-adenya yang masih kecil pun sudah di jelalin fitnah, hasut, hasat,  dan hilang tatak Rama karena masukan dan didikan keluarga yang dikuasi fitnah. 

Mungkin, Kesalahan terbesar Yusuf adalah hanya menyelamatkan orang tua dan kelaurganya dari jurang kehancuran. Sungguh dunia ini terbalik.

Sikap orang tua Yusuf sungguh diluar kendali hati yang bersih. Jika anaknya yang pindah agama dan murtad itu di anggap hal yang wajar. Tapi ketika Yusuf dengan segala perjuangan menyelematkan keluarga itu dianggap pembawa sial.

Nauduzubilah Himindalik.

Semoga cerita Fiksi ini da hikmah bagi semuanya.

Fitnah itu lebih kejam dari Kerja Iblis.

Bagaimana kisah selanjutnya?…

Bagikan