Paranoid, Perjuangan Berujung Fitnah

Paranoid, Perjuangan Berujung Fitnah

Cerita Fiksi

Ditulis oleh Ruslan Raya Mata Sosial 

Baca Juga: Tips Sederhana Jaga Kesehatan di Musim Hujan Ala Dwi dari...

Perjalan hidup yusuf penuh dengan terpaan mental, tekanan secara psikologis terus bertubi-tubi, Yusuf sejak mulai dewasa kehilangan Figur ayah. Tidak  seperti anak-anak lain seusianya, Yusuf harus banyak menerima tekanan mental yang dahsyat. saat SMP, saking tidak kuat menahan deritanya. Yusuf merasa bahwa dirinya bukan anak Kandung orang tuanya. Singkatnya Yusuf kabur dari rumah. 

Selama meninggalkan rumah. Yusuf tidur di emper pasar dan jadi gelandangan, kadang jadi kuli panggul dan kadang serabutan demi  bertahan hidup. 

Baca Juga: Ki Paku Buana Pamungkas Pendiri Persatuan Indonesia Nuswantara Beri Dukungan...

Seiring perjalanan waktu. Yusuf memutuskan untuk kembali kerumah dengan harapan semoga keluarganya sudah bisa berubah. 

***

Setelah tidak melanjutkan kuliah, Yusuf ikut dengan Bibinya di jakarta untuk mencari pekerjaan. Perjuangan orang tua yusuf sangat luar biasa sebenarnya dengan melepas sebidang tanah yang dijual secara berangsur untuk bekal selama Yusuf di jakarta ikut Bibinya. Yusuf tidak gratis ikut Bibinya walau dirinya tidak pernah megang uangnya, namun sebidang tanah itulah yang dijadikan biaya Yusuf selama proses cari kerja di jakarta, jika perlu Yusuf baru meminta uang ke bibinya. 

Baca Juga: Provinsi Banten, Somantri: Siap Ikut Berkiprah Di Mata Sosial Indonesia...

Kerjaan tak kunjung dapat. Akhirnya Yusuf bekerja serabutan jadi tukang parkir, tukang cuci baju, dan ngurus taman di komplek perumahan daerah Cengkareng jakarta barat. 

Lagi-lagi fitnah mengalir deras ke orang tua Yusuf dan Bibinya. Dan akhirnya Yusuf keluar dari rumah Bibinya dam memilih hidup diluar  dengan jadi tukang cuci baju.

Dalam perjalanan hidupnya. Yusuf dirangkul oleh seorang konsultan kontraktor bernama Budi. 

Pk Budi: “Saya salut dalam perjuangan hidup anda yang tanpa mengeluh, besok ikut saya aja dan tinggal dirumah saya, saya ada kawan punya pabrik. Ntar saya titipkan disana untuk bekerja,” ungkap Pk Budi yang ngajak nongkrong yusuf sambil makan nasi pecel di daerah Cengkareng.

Yusuf : “Terimakasih pak, apa yang saya bisa kerjakan saya kerjakan,” kata Yusuf singkat. 

Beberapa minggu kemudian Yusuf bekerja membantu Pak Budi dalam urusan kerjanya, walaupun tidak digaji yang penting yusuf dapat makan dan bisa ikut tidur di teman-temannya sekalian menjadi pembantu  kuli nyuci baju.

Hubungan Yusuf sama Pk Budi semakin akrab kaya ayah dan anak. Akhirnya Yusuf masuk kerja di sebuah pabrik teman pak Budi tersebut. 

Namun setelah beberapa bulan bekerja di Pabrik temannya Pk Budi itu, Yusuf di Jodohkan sama pak budi dengan keluarga istrinya yang dari makasar.

Dalam proses perjodohan itu yusuf menolak dengan halus. 

Yusuf: “Maaf Pk. Aku belum memikirkan menikah. Aku masih pengen membantu keluarga da melanjutkan pendidikan adek-adek ku. Agar keluargaku bisa sukses dan berhasil dengan jalur pendidikan,” ungkap Yusuf dengan lembut dan sopan kepada keluarga Pk Budi yang menjadi orang  tua angkatnya.

Pak Budi: “Oh iya nak Yusuf tidak apa-apa yang penting kita tetap jadi saudara, kami sangat menghargai keputusan Nak Yusuf,” dengan ramah dan bersahaja. 

***

Dengan berjalannya waktu, Hubungan Yusuf dan Pk Budi menjadi Renggang dan pudar karena banyak faktor setelah perjodohan itu.

Yusuf Fokus bekerja dan mendirikan perusahaan. Yusuf dapat kabar melalui surat bahwa adeknya yang perempuan sakit lumpuh dan diminta pulang.

Sesampainya di kampung halamannya. Orang tua yusuf memohon untuk membantu mengobati adeknya yang sedang lumpuh. 

Ayah Yusuf: Tolong bantu adek mu, ayah dan  ibu tidak bisa berbuat apa-apa,” kata orang tua yusuf sambil nangis. 

Yusuf: “Tidak apa-apa Bu, Pak ini tanggung jawab Yusuf sebagai anak pertama”, kata Yusuf sambil berharap semua bisa terselesaikan.

Yusuf berjuang dengan segala tenaga dan segala cara agar bisa mengobati adeknya perempuannya yang lumpuh. 

Singkat cerita, tetangga rumahnya di kampung halamannya menawarkan pengobatan tardsional untuk mengobati adeknya yang lumpuh. 

Doris yang merupakan tetangga dan teman ayah Yusuf sejak kecil mengajak untuk ketemu di jakarta untuk pengobatan selanjutnya. 

Yusuf pun kordinasi sama orang tuanya, bahwa Doris mengajak dan menawarkan untuk mengobati Ijem adenya Yusuf yang sedang lumpuh.

Yusuf : “Mang Doris tadi nawarin untuk mengobati Ijem dengan pengobatan tradisonal, bagai mana menurut ayah dan ibu,” ungkap Yusuf pada orang tuanya.

Ayah Yusuf: “Saya sebagai orang tua mengijinkan. Dan memang kalau bisa ikuti mang Doris, karena Mang Doris itu temen Ayah waktu kecil. Kalau bisa ikuti si Doris, dia bisa di jadikan orang tua,” kata ayah Yusuf sambil menyuruh untuk ikuti Doris.

Dengan segala perjuangan Yusuf terus berusah mengobati adeknya dengan perintah dan ijin orang tuanya untuk mengikuti mang Doris yang merupakan temana ayah Yusuf waktu kecil. 

Tidak peduli uang apa, dan darimana, bahkan  pinjaman kiri kanan pun dilakukan untuk biaya pengobatan adeknyan dan biaya keluarga.

Apapaun yang mang Doris butuhkan, Yusuf selalu penuhi terutama dalam masalah biaya  oprasional untuk pengobatan adeknya. 

Akhirnya Ijem sembuh total dari sakit Lumpuhnya dengan hadiah Permen Kojek untuk Mang Doris. 

Semoga cerita Fiksi ini ada hikmah bagi semuanya.

Fitnah itu lebih kejam dari Kerja Iblis.

Ikuti terus ceritanya.

Bagaiana Yusuf Di Fitnah Kiri Kanan. 

Ternyata Yusuf Sudah Djodohkan sama Anaknya Doris sejak Yusuf masih Kuliah. 

Karena Perjodohan yang tidak terjadi Itulah Doris menebar Fitnah menghancurkan Keluarga Yusuf. 

Yusuf pun tahu pejodohan itu dari anaknya Doris yang menceritakan rahasi itu. Setelah Doris Meninggal Dunia. 

Bagikan